Bumi, langit berjarak menyatukan bisik lirih gadis "Syauqina" menghadap Tuhannya. Sesekali melirik melalui kolong jendela persinggahan.
"Syau?"
"Kemarilah". Sang Ibu, ibu rizi melambai.
Ibu seorang anak tak kuasa melihat syau menikmati hati malam, lantas wejangan menetapi kesabaran sambil menikmati sedih, syau melirih menenangkan hati memeluk ibu riz. Tatapan hati syau terpancar dari kedua benteng mata yang berusaha menyimpan kesedihannya.
"Mbak?". Panggilan ibu riz dari syau. Siapakah sebenarnya dia mbak?. Betapa teganya ia, meng-amanahkan sesuatu yang ia sendiri pun tak amanah.
Tune Up...!!!!
Asslamu'alaykum... Alhamdulillah...
Tough...
Tatanan bebatuan-bebatuan bata rapi merangkup diatasnya.
Ditempah melalui panasnya api.
Lalu..
Singkap tangan-tangan gagah pejaka.
Demi kokohnya bangunan tinggi.
Begitulah...
Suatu bata mengepih, tersudut diantaranya.
Menjadi terbelah, pecah, pun ia tetap bermakna.
Yang tanpanya runtuhlah bangunan.
Yang menyelamatkan pertemanan antara bebatuan.
To whom?
Dengan rapihnya susunan bebatuan.
Mereka melengkapi masjid, tempat peribadahan.
Kepada manusia Aku serahkan.
Kepada manusia Aku rindukan rintihan.
Tiada sia-sia ukiran dari-Nya melalui tangan pejaka.
Celakanya, manusia ingkar.
Takutmu pada-Nya sudah hampa.
Hebatnya dzikir tak lagi terukir.
Bangunlah...
Mengadulah...
Cintamu yang masih perawan, doakanlah.
Menjadi tegar untuknya jauh lebih baik, melangitlah
Atau Allah sedang berbincang untukku tentang,
Pulanglah...
Kembalilah...
Telah lama Allah perintah.
Ketika dirimu merintih lelah.
Tough...
Tatanan bebatuan-bebatuan bata rapi merangkup diatasnya.
Ditempah melalui panasnya api.
Lalu..
Singkap tangan-tangan gagah pejaka.
Demi kokohnya bangunan tinggi.
Begitulah...
Suatu bata mengepih, tersudut diantaranya.
Menjadi terbelah, pecah, pun ia tetap bermakna.
Yang tanpanya runtuhlah bangunan.
Yang menyelamatkan pertemanan antara bebatuan.
To whom?
Dengan rapihnya susunan bebatuan.
Mereka melengkapi masjid, tempat peribadahan.
Kepada manusia Aku serahkan.
Kepada manusia Aku rindukan rintihan.
Tiada sia-sia ukiran dari-Nya melalui tangan pejaka.
Celakanya, manusia ingkar.
Takutmu pada-Nya sudah hampa.
Hebatnya dzikir tak lagi terukir.
Bangunlah...
Mengadulah...
Cintamu yang masih perawan, doakanlah.
Menjadi tegar untuknya jauh lebih baik, melangitlah
Atau Allah sedang berbincang untukku tentang,
Pulanglah...
Kembalilah...
Telah lama Allah perintah.
Ketika dirimu merintih lelah.
Langganan:
Postingan (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact