Tough...
Tatanan bebatuan-bebatuan bata rapi merangkup diatasnya.
Ditempah melalui panasnya api.
Lalu..
Singkap tangan-tangan gagah pejaka.
Demi kokohnya bangunan tinggi.
Begitulah...
Suatu bata mengepih, tersudut diantaranya.
Menjadi terbelah, pecah, pun ia tetap bermakna.
Yang tanpanya runtuhlah bangunan.
Yang menyelamatkan pertemanan antara bebatuan.
To whom?
Dengan rapihnya susunan bebatuan.
Mereka melengkapi masjid, tempat peribadahan.
Kepada manusia Aku serahkan.
Kepada manusia Aku rindukan rintihan.
Tiada sia-sia ukiran dari-Nya melalui tangan pejaka.
Celakanya, manusia ingkar.
Takutmu pada-Nya sudah hampa.
Hebatnya dzikir tak lagi terukir.
Bangunlah...
Mengadulah...
Cintamu yang masih perawan, doakanlah.
Menjadi tegar untuknya jauh lebih baik, melangitlah
Atau Allah sedang berbincang untukku tentang,
Pulanglah...
Kembalilah...
Telah lama Allah perintah.
Ketika dirimu merintih lelah.


2 komentar:
Cie yang lagi......apa ya?
Eh pak sur, apa kabar pak lama tak ada kabar. Gimna photo design tu? Hehe
Posting Komentar